Berdasarkan infografis, total pendapatan desa pada tahun 2026 mencapai Rp1.393.258.200,00 yang diperoleh dari pendapatan asli desa, pendapatan transfer, dan lainnya. Sebesar 98.3% pendapatan diperoleh dari pendapatan transfer. Pendapatan dapat transfer dapat dibagi lagi sumber pendapatan nya menjadi dana desa, bagi hasil pajak dan retribusi, alokasi dana desa, bantuan keuangan provinsi, bantuan keuangan kabupaten/desa.
Di sisi pengeluaran, total belanja desa sebesar Rp1.443.633.758,62, terdapat defisit anggaran sebesar Rp50.375.558,62. Defisit ini ditutup dengan penerimaan pembiayaan yang diperoleh dari SILPA tahun sebelumnya sebesar Rp50.375.558,62.
Alokasi belanja desa dibagi pada beberapa bidang. Pada bidang penyelenggaraan pemerintahan desa mendapat anggaran sebesar Rp880.050.468,62 atau sebesar 61%. Bidang pelaksanaan pembangunan desa mendapat bagian Rp334.644.680,00 atau sebesar 23.2%. Bidang pembinaan kemasyarakatan mendapat anggaran sebesar Rp7.450.00,00 atau sebesar 0.05%. Bidang pemberdayaan masyarakat mendapat anggaran sebesar Rp187.625.000,00 atau sebesar 13%. Terakhir bidang penanggulangan bencana, darurat, dan mendesak mendapat anggaran sebesar Rp30.000.000,00 atau sebesar 2.1%. Setiap bidang akan dibagi lagi dengan sub bidang sesuai dengan tujuan nya masing-masing.
Pada infografis ini juga menampilkan perkembangan data APBDes 4 tahun terakhir. Selain itu, terdapat informasi mengenai program desa pada tahun 2026 yaitu bantuan sosial BLT DD yang sudah selesai dilaksanakan hingga bantuan peralatan usaha yang akan datang.
Dengan adanya transparansi APBDes ini, menunjukkan Pemerintah Desa Pesucen berupaya untuk mewujudkan transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola pemerintahan desa yang baik, sehingga masyarakat dapat mengetahui penggunaan anggaran dan berpartisipasi dalam mengawal pembangunan desa.
Kegiatan dan perkembangan lain di Desa Pesucen
Sebanyak 14 mahasiswa UB Kelompok 38 MMD resmi memulai pengabdian di Desa Pesucen untuk memajukan UMKM manisan lokal dan membuat ulang website desa.
Pesucen, Kalipuro – Dalam upaya mengoptimalkan potensi ekonomi pedesaan dan memperkuat daya saing produk lokal di era digital, tim Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Kelompok 38 Universitas Brawijaya menggelar serangkaian program pengabdian masyarakat di Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Program komprehensif bertajuk “SIGMA UMKM” (Strategi Pemasaran dan Integrasi Manajemen Akuntansi UMKM) ini hadir sebagai jawaban nyata atas berbagai tantangan struktural yang selama ini dialami oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat, khususnya produsen olahan makanan khas berbasis komoditas pertanian lokal seperti manisan.
Desa Pesucen yang terletak di Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi memiliki peluang yang baik untuk budidaya ikan lele. Namun, produk budidaya tersebut masih dijual dalam kondisi segar, sehingga value added produk belum maksimal. Hal ini mendorong dilaksanakannya program LENTERA LELE (Lele Inovatif untuk Keluarga Sejahtera) sebagai salah satu langkah pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan produk dari ikan lele serta melaksanakan Zero Waste terhadap Limbah tulang Lele.